Setyoturnawanto’s Weblog

TEKNOLOGI PENGOLAHAN SINGKONG TERPADU SKALA RUMAH TANGGA DI PEDESAAN

ABSTRAK

Singkong merupakan salah satu komoditi yang murah dan banyak terdapat di pedesaan.  Pengolahan singkong secara terpadu merupakan salah satu upaya memanfaatkan seluruh bagian dari umbi singkong tanpa ada yang terbuang dan mengoptimalkan setiap tahapan proses pengolahan sehingga dapat meningkatkan nilai tambah produk pertanian.  Pengkajian ini diterapkan pada industri kripik singkong skala rumah tangga di pedesaan.  Lokasi pengkajian bertempat di Desa Padamara Kabupaten Lombok Timur dari bulan Februari hingga Juli 2006.  Rancangan pengkajian yang digunakan adalah with and without yaitu membandingkan antara petani yang menggunakan sentuhan teknologi (kooperator) dengan yang tidak menggunkaan sentuhan teknologi (non kooperator), uji organoleptik dibandingkan dengan uji t dan untuk mengetahui kelayakan ekonomis teknologi yang dikaji menggunakan analisis B/C ratio. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa umbi singkong yang diolah menjadi kripik singkong dapat memberikan tambahan pendapatan sebesar Rp. 2.064.375,- per bulan dengan B/C ratio 0,64.  Industri rumah tangga ini menghasilkan limbah (hasil samping) berupa kulit singkong, potongan kecil singkong, dan endapan pati singkong.  Dengan introduksi teknologi, hasil samping tersebut diolah lebih lanjut seperti kulit singkong digunakan sebagai campuran pakan ternak, potongan kecil singkong dibuat menjadi jajanan seperti lentho dan endapan pati menjadi tepung tapioka yang lebih berkualitas.  Dari hasil pengolahan lanjut potongan kecil singkong dan endapan pati singkong dapat memberikan tambahan pendapatan sebesar Rp. 98.750,- per bulan (4,78%) dan kulit singkong yang dihasilkan memiliki potensi menekan biaya pakan ternak.

Kata kunci: teknologi pengolahan, terpadu, singkong, hasil samping

PENDAHULUAN

Singkong atau ubi kayu (Manihot esculenta Crantz) merupakan bahan pangan potensial masa depan dalam tatanan pengembangan agribisnis dan agroindustri.  Sejak dulu hingga sekarang singkong berperan cukup besar dalam mencukupi bahan pangan nasional dan dibutuhkan sebagai bahan baku berbagai industri makanan.  Singkong merupakan salah satu tanaman yang memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap berbagai kodisi tanah dan tidak memerlukan perawatan yang khusus.  Singkong merupakan salah satu komoditi yang banyak dijumpai di daerah tertinggal seperti di Desa Padamara Kabupaten Lombok Timur.  Harga per kg singkong relatif rendah berkisar antara Rp. 200,- hingga Rp. 500,- per kg (BPS, 2004).  Upaya pengolahan lanjut singkong diperlukan untuk menunjang program diversifikasi pangan dan berdampak pada peningkatan nilai tambah komoditas sehingga derajat komoditas serta pendapatan dan kesejahteraan masyarakat pedesaan pun ikut terangkat.  Pengolahan singkong secara terpadu pada industri kripik singkong skala rumah tangga merupakan salah satu upaya mengoptimalkan setiap tahapan proses pengolahan singkong dan pemanfaatan hasil samping yang timbul dari industri tersebut untuk meningkatkan nilai tambah singkong.

Di Desa Padamara umumnya sngkong diolah menjadi singkong rebus, singkong goreng dan kripik singkong.  Pembuatan kripik singkong banyak diminati karena proses pembuatannya mudah dan membutuhkan alat yang sederhana.  Hal ini menyebabkan kripik singkong cocok digunakan sebagai usaha industri skala rumah tangga di pedesaan.  Penanganan singkong setelah pemanenan akan berpengaruh terhadap kualitas singkong yang dihasilkan.  Singkong akan berubah warna menjadi coklat kebiruan bila tidak segera diolah setelah pengupasan.  Warna coklat terjadi karena adanya aktifitas enzim poliphenolase yang terdapat dalam umbi.  Reaksi akan dipercepat bila berkontaminasi dengan O2 dan umbi dalam keadaan terluka akibat pemotongan (Wargiono, 1979).  Pencoklatan ini akan menyebabkan warna kripik yang dihasilkan tidak menarik.

Berdasarkan survey awal diketahui bahwa pembuatan kripik singkong di lokasi pengkajian belum optimal dalam pemanfaatan setiap tahapan proses sehingga hasil yang dicapai tidak optimal, kripik singkong yang dihasilkan warnanya kurang memuaskan, kripik mudah menurun kerenyahannya dan hasil samping yang berupa kulit singkong hanya ditumpuk dalam bentuk onggokan yang semakin lama semakin menumpuk.  Dengan introduksi teknologi yang disesuaikan dengan kondisi pedesaan yang serba terbatas modal dan sumberdaya manusianya diharapkan ada peningkatan tambahan pendapatan dari pengolahann singkong secara terpadu yang memperhatikan pengoptimalan setiap tahapan proses dan pemanfaatan hasil samping sehingga dapat menambah pendapatan keluarga tani.

untuk lebih jelasnya klik disini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • Tidak ada
  • Mr WordPress: Hi, this is a comment.To delete a comment, just log in, and view the posts' comments, there you will have the option to edit or delete them.

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: